Piool.com - Sementara itu kegatalanku di bawah sana, di kitorisku menjadi paduan kenikmatan yang dahsyat melandaku. Bu Retno melihat perkembanganku dan Surti hingga ikut terbawa arus. Nafsu birahinya juga ikut mengganas. Dia menyambar dildo dua kepala yang rupanya telah dipersiapkan sebelumnya. Diangkatnya kakiku hingga ke pundaknya. Pantatnya digeserkan ke depan mendekat ke pantatku. Dimasukkannya salah satu kepala dildo itu ke kemaluanku yang langsung melahapnya. Kemudian dia masukkan kepala dildo sisi yang lain ke kemaluannya sendiri. Dalam waktu yang sangat singkat, dia sudah mengayun-ayun dan memompa dildo itu ke kemaluannya dan ke kemaluanku. Sungguh sangat sensasional.
Dua perempuan cantik itu kini sedang menggarap tubuhku. Dia atas bangku taman yang tipis memanjang ini, Surti mengangkang dengan nonoknya yang getas dan membasah dalam lumatan mulutku, sedangkan di belakangnya, Bu Retno menggarapku dengan dildonya. Kini kami bertiga berpacu bersama menapak puncak-puncak kepuasan kebetinaannya. Kini kami bertiga sedang dipacu dan diburu gelombang dahsyat untuk meraih orgasmenya. Kurasa taman alam pedesaan yang penuh bunga itu telah berubah menjadi hutan yang dihuni serigala-sergala betina yang haus dan lapar. Yang lolongannya memenuhi belantaranya hingga ke ujung-ujungnya. Kegaduhan erotis dalam bentuk desahan, rintihan dan racauan liar memenuhi hutan itu.
Rasa seperti ingin kencingku sudah kembali hadir kini. Aku yakin aku sudah berada di ambang orgasmeku. Dan tak ayal lagi gerakan bagian-bagian tubuh sensitifku membuas tak terkendali. Surti memperketat jambakan tangannya pada rambutku. Dan Bu Retno mempercepat ayunan dildonya ke memekku hingga aku tak kuasa lagi membendungnya. Dengan jeritan yang membahana di taman hutan itu, kurasakan cairan orgasmeku muncrat-muncrat. Kubenamkan lebih dalam kukuku ke paha Surti untuk menahan kenikmatan dahsyatku. Kuangkat tinggi-tinggi pantatku untuk menjemput dildo Bu Retno agar dapat lebih meruyak lagi ke dalam vaginaku. Setelah itu segalanya kulepaskan. Aku terjatuh lunglai. Aku merosot ke tanah di taman penuh bunga itu. Aku merasakan kelegaan yang amat sangat setelah melewati badai nafsuku yang sempat melemparkanku terombang-ambing dalam gairah birahi. Nafasku yang tersengal mencoba menghirup udara sebanyak-banyaknya.Aku merasakan tubuhku dibangunkan dan diangkat ke sofa di taman itu. Aku disenderkan di tempat empuk di sana. Kakiku mereka rentangkan terbuka. Aku dapat melihat dan merasakan bahwa Bu Retno langsung kembali merangsek nonokku. Dia ingin meminum cairan orgasmeku. Sementara kulihat Surti menjilati dildo dua kepala itu. Dia menjilati cairanku dan juga cairan yang mulai membasah dari kemaluan Bu Retno. Surti dan Bu Retno masih belum berhasil meraih orgasmenya. Dan kini tubuhku sepenuhnya menjadi obyek pemuasan birahi mereka. Ada rasa tersanjung yang menyelinap dalam relung hatiku. Bu Retno dan Surti sangat menggilai diriku. Mereka sangat merindukan apapun yang keluar dari tubuhku. Mereka akan melumatnya, meminum dan bahkan memakan apapun yang keluar dari tubuhku. Mereka menatapku dengan nyalang dan dengan penuh kehausan serta kerakusan birahi pada tubuhku.
Aku masih kelelahan akibat orgasmeku tadi. Aku yang kini telah tersadar sepenuhnya mencoba mengingat-ingat, bagaimana caranya hingga aku sempat terbius oleh minuman dari Bu Retno tadi. Rupanya begitu aku terserang kantuk, mereka melucuti pakaianku hingga telanjang bulat. Dan mereka juga melucuti pakaiannya sendiri. Kemudian mereka letakkan tubuhku ke atas bangku tipis panjang itu. Mereka ingin agar seluruh tubuhku terbuka. Tanganku yang jatuh terkulai membuka ketiak dan dadaku. Kakiku yang terjuntai ke tanah membuka selangkanganku dan juga membuat kemaluanku merekah terbuka lebar-lebar. Dengan cara begitu, Surti dan Bu Retno benar-benar dapat menikmati pesona tubuhku secara habis-habisan. Kembali perasaan tersanjung menyelip di dadaku hingga terlontar senyum di bibirku. Aku sangat menikmati kekaguman dan kegilaan mereka pada tubuhku. Baca selengkapnya!

0 Response to "Kisah Pesta Sex Lesbi dan Tukar Lobang 7"
Posting Komentar