Tradingan.com - Aku mulai dapat merasa akan timbulnya “pipis enak”. Dari dalam vaginaku, keinginan kencing ini mendesak-desak keluar. Kutarik kepala Surti yang masih terus menggeluti bibirku. Kudorongnya ke bawah, ke memekku. Aku ingin agar Surti memainkan jari-jarinya dalam kemaluanku di barengi dengan ciuman dan jilatannya pada bibir vaginaku. Surti cepat memahami. Tanpa melepaskan jari-jarinya dari lubang vaginaku, Surti melepas bibirnya dari bibirku untuk kemudian meluncur ke dada, perut, ke pusar ke jembut dan akhirnya menuju vaginaku.
Dengan meluruskan badannya agar berada di antara pahaku, dan dengan jari-jarinya yang terus menari-nari merangsang G spot-ku, Surti mendaratkan bibirnya ke vaginaku. Dia menciumi, menyedot dan menjilat-jilat bagian atas vaginaku.
Rasa ingin kencingku akhirnya meledak. Aku mendapatkan orgasme dari perilaku Surti yang sangat obsessive dan liar itu. Banyak sekali cairan birahi yang tumpah dari dalam vaginaku dan mengalir keluar. Untuk melampiaskan emosi birahiku, kutangkap kepala Surti, kuremas-remas rambutnya hingga dandanan rambutnya berantakan. Surti menjadi semakin liar saat menyedot cairan birahiku. Kepalanya digeleng-gelengkan dan ditekan-tekannya ke selangkanganku. Sedemikian bernafsunya bibirnya menyambut cairan kemaluanku. Seperti orang makan buah semangka yang merah ranum hingga kudengar mulut Surti mengeluarkan bunyi. Mulutnya yang indah menjilati dan meminum semua cairan birahiku yang meleleh keluar. Agar dapat lebih banyak menyedot cairan lendir itu, lidahnya menyeruak mengorek seluruh isi liang vaginaku.Setelah orgasme, aku merasa lemas sekali. Seakan otot-ototku dilolosi dari tubuhku. Aku lunglai. Sebaliknya dengan Surti, yang dengan meminum semua cairan birahi dari lubang vaginaku, nafsunya bahkan semakin memuncak. Dia membiarkanku lunglai di ranjang, tetapi dia sendiri tidak menghentikan serangan nafsunya pada tubuhku. Ciuman dan lidahnya merambati seluruh permukaan pahaku. Dia tinggalkan cupang-cupang sedotannya pada pahaku. Sedotan-sedotannya terasa pedih pada kulitku, hingga terkadang kuangkat kepalanya dan menariknya untuk melepaskan bibirnya yang terasa seperti vacuum cleaner yang menancap di pahaku. Kemudian tanpa ayal dibalikkannya tubuhku agar tengkurap.
Dia benamkan mukanya ke celah bokongku. Dia cium habis-habisan bokongku. Dia masukkan lidahnya ke celah belahan pantatku. Dia berusaha menjilati duburku hingga aku sangat kegelian. Rasa lunglaiku jadi hilang. Birahiku pelan-pelan kembali timbul. Dia angkat pantatku hingga aku tertungging. Dengan posisi itu, di hadapan Surti kini telah terpampang pantatku dengan analnya yang menguak terbuka. Kubayangkan lubang pantatku yang kuncup dilingkari garis-garis lembut kemerahan menuju titik pusat lubang duburku. Tak ayal lagi hidung, bibir dan lidah Surti langsung merangsek pantatku untuk meraih kenikmatan. Aku bergetar dan merinding. Nafsu Surti menjadi sangat binal. Dia mendesah dan mendengus-dengus seperti anjing yang rakus saat menghadapi makanannya hingga tidak mau ada anjing lain yang mendekat karena khawatir akan merebut makanannya itu. Baca selengkapnya!

0 Response to "Wow! Pesta Seks Lesbi dan Tukar Lendir"
Posting Komentar